Sumber: Goodreads.com
Akhirnya selesai juga baca novel ini di sela-sela kesibukan yang menguras otak dan daya penglihatan. Pertama kali ketika saya membaca sinopsis novel Rahasia Tergelap, saya tiba-tiba merinding. Pikiran saya sudah dibawa oleh imajinasi yang tidak-tidak.
Saat membaca kalimat pertama pada bagian prolog, saya mengerutkan kening. Saya kira situasinya di malam hari, ternyata bukan. Ketika membaca bab satu, saya bisa menyimpulkan alasan Ella bunuh diri tapi saya tidak bisa menyalahkan siapa pun. Tapi saat memasuki bab dua dan seterusnya, saya mulai bingung. Kok jadi, gini?
Terus semakin memasuki pertengahan bab, saya mulai nyaman sama alur ceritanya. Ada bagian yang bisa membuat saya bergidik ngeri dan membuat bulu kuduk merinding, tapi saya tetap merasa kurang mendapat porsi nuansa thriller. Malah lebih terasa romance daripada ketegangan.
Saya suka sama cara penulis yang membuat kita menduga-duga siapa pelaku yang sebenarnya? Saat membaca bab ini, pikiran kalian akan menduga, oh ... pasti dia pelakunya. Lalu, pada bab selanjutnya, kalian akan berpikir, jangan-jangan ... dia lagi pelakunya?
Lalu, saya menemukan beberapa informasi yang dimasukkan secara sekaligus. Memang membuat saya tidak bertanya-tanya lagi bagaimana ciri-ciri sang tokoh, latar belakang, keadaan keluarga, dan lainnya tapi membuat saya juga tidak bisa berimajinasi mengenai masing-masing tokoh. Bahkan, informasi itu membuatnya menjadi bertele-tele. Membuat saya memilih skip pada bagian yang penuh informasi.
Saya tidak suka dengan cara penulis yang menggunakan dua POV, yaitu POV Giselle dan Daryl. Memang saat membaca kita akan fokus pada perasaan masing-masing tokoh. Namun, hal itu juga membuat kalimat menjadi semakin bertele-tele. Belum lagi ada beberapa bagian yang sudah dijelaskan pada bagian tokoh Giselle, lalu dijelaskan kembali saat bagian tokoh Daryl. Membuat saya ingin cepat selesai membacanya.
Selain itu ada beberapa bagian yang menurut saya agak ganjil, seperti saat di pemakaman Ella di mana Erika bertanya kepada Giselle apa yang dia ketahui tentang Ella dan didengar oleh Ami padahal Giselle ingin merahasiakannya.
Syukurlah, di beberapa bagian ada yang lucu dan membuat saya tertawa, apalagi saat membayangkan ekspresi wajah Justin yang serius di mana bibir bawahnya maju duluan. Selain itu, saya cukup terhibur dengan tingkah Daryl dan kawan-kawan yang sukses membuat saya tersenyum membayangkan tingkah mereka. Apalagi saat bertemu dengan Erika, membuat saya tertawa kecil.
Dan ... tebakan saya salah. Saya sempet terpikir dia pelakunya tapi saya lebih pro ke orang lain yang ternyata memang benar-benar korban. Di akhir, semua jawaban yang diinginkan terkupas semua. Reaksi saya saat selesai membaca novel ini adalah memukul meja sambil senyum-senyum gak jelas. Kenapa harus gitu, sih, endingnya? Saya gak bisa digantung kayak gini.
Terakhir, cerita ini cocok dibaca bagi Anda pencinta misteri dan menjadi selingan. Gaya bahasa yang disampaikan cukup mengalir membuat Anda tidak sadar jika sudah berada di penghujung cerita. Andai novel ini lebih terasa unsur thrillernya, pasti akan lebih seru.
Rate: 3 dari 5




