Review Piano di Kotak Kaca: Tegar Tapi Rapuh di Dalam

No Comments
Sumber: Bukalapak.com

Judul           : Piano di Kotak Kaca
Penulis       : Agnes Jessica
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbitan     : 2017
Tebal Buku: 376 halaman
ISBN            : 9786020376189

Ah, akhirnya selesai juga baca novel karangan Agnes. Saya merasakan kelegaan yang amat dalam. Kesan pertama saya terhadap novel ini lumayan menarik. Konflik yang dipaparkan oleh penulis juga cukup unik. Walau, sang tokoh dibuat jatuh sedalam-dalamnya, dibuat sangat menderita, saya tidak menyangka kisahnya bakal seperti itu. Judul novel ini pun bukan hanya menggambarkan sebuah peninggalan Ibunya, juga bukan hanya cita-cita Sheila, melainkan perumpamaan terhadap sosok Sheila.

Sheila, seorang gadis yang masih di bawah umur harus menelan pil pahit saat kehidupannya berantakan. Ayahnya–Charles–dijebloskan ke penjara karena membunuh istrinya sendiri. Haryanto yang merupakan kakak angkat Charles, mengambil alih hak asuh Sheila. Sheila yang tidak ingin hidup sebatang kara pun menerima tawaran untuk tinggal di rumah Omnya sampai dia berusia 17 tahun. Sayangnya, kedatangan Sheila tidak disambut baik oleh keluarga Haryanto. Hanya Haryantolah yang benar-benar peduli terhadap Sheila.

Hidup Sheila semakin tertekan saat harus tinggal di rumah Omnya dan diperlakukan seperti pembantu. Tentu saja Omnya tidak tahu akan hal itu. Sampai suatu hari, tak sengaja Sheila memukul kepala Renny dengan botol kaca tapi yang kena adalah Reza, Kakaknya Renny. Alhasil, Sheila disekolahkan di asrama di mana sekolah itu khusus untuk anak-anak yang bermasalah.

Sheila berharap di sekolah barunya tidak ada yang mengetahui identitasnya sebagai anak seorang pembunuh. Sayangnya, semua murid di sana sudah tahu. Tidak ada rahasia karena semua muridnya bermasalah. Kehidupan Sheila mulai membaik karena bertemu dengan Tini dan Wenny dan menjadi sahabat. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena Sheila membuat masalah karena tak bisa mengendalikan emosinya. Lagi-lagi Sheila khilaf memukul Indah dengan balok kayu karena sudah mempermalukannya di depan Pak Alex, guru mereka.

Karena tak ingin dimasukkan ke penjara akibat perbuatannya, Sheila berlari ke arah rumah di belakang asrama. Di sanalah dia bertemu dengan Bram. Bram yang tidak suka bertemu dengan orang lain, awalnya menolak kehadiran Sheila. Namun, Bram tertegun ketika tahu Sheila sama dengan dirinya. Bram menganggap bahwa dia dan Sheila tidak diterima oleh dunia. Akhirnya, dia mengizinkan Sheila untuk tinggal di rumah dan bekerja sebagai pembantu sambil belajar.

Pada bagian awal, cerita ini biasa-biasa saja, bahkan agak membosankan. Saya bisa menebak beberapa bagian saat membacanya. Perpindahan scene terasa sangat cepat. Saya juga tidak merasakan emosi apa pun saat membaca cerita ini. Memasuki bagian pertengahan, konflik yang dijabarkan penulis semakin seru. Akan tetapi, tetap saja emosi yang dibawa karakter seakan masih terasa kurang. Scene per adegannya juga memiliki intonasi yang cepat. Mungkin penulis ingin segera menyelesaikan cerita ini atau bisa juga terbawa oleh kebiasaan menulis FTV lantaran penulis sudah memiliki 70 skenario FTV.

Dari segi asmara, saya cukup senang saat penulis menjabarkan scene Bram dengan Sheila yang perlahan-lahan mulai jatuh cinta. Selain itu, adanya tokoh Reza yang juga jatuh cinta pada Sheila dan Marisa yang jatuh cinta pada Bram membuat kisah asrama semakin seru. Di hari ulang tahun Sheila, Bram dan Sheila terjaring skandal yang mengakibatkan mereka harus terpisah selama lima tahun. Mereka dipertemukan lagi ketika Bram akan menikahi Vania.

Cerita ini juga berhasil membuat saya tersenyum dan merasa lucu di beberapa bagian. Kisah asmara antara Bram dan Sheila juga dibuat pelik oleh sang penulis. Namun, saya tetap menikmatinya apalagi setelah tahu ending cerita ini sesuai dengan yang saya perkirakan. Novel ini juga memberikan beberapa amanat. Ada salah satu kutipan yang saya suka.

"Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mengerjakan sesuatu yang kita sukai. Udah senang, dibayar, lagi!"–Hlm. 118

Saya lebih suka jika cerita ini lebih dibuat dramatisir dan adanya emosi pada setiap adegan. Pasti saya akan lebih menikmatinya.

Nilai: 2,5 dari 5
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments

Post a Comment