Judul: A Untuk Amanda
Penulis: Annisa Ihsani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbitan: 2016
Tebal Buku: 264 halaman
ISBN: 978-605-03-2631-3
Tadinya kukira orang mengalami depresi ketika ada sesuatu yang salah dengan hidup mereka. Tapi bagiku, depresi datang ketika segala hal dalam hidupku berjalan dengan sempurna— A Untuk Amanda
Ketika penulis lain menceritakan seorang tokoh yang depresi dikarenakan memiliki masa lalu yang kelam, trauma, dibully, atau hal lainnya yang membuat hidup sang tokoh menjadi tidak sempurna, berbeda dengan Annisa Ihsani. Penulis membuat sang tokoh depresi karena hidupnya sempurna. Well, tidak ada yang sempurna dalam hidup, bukan?
Novel ini lebih banyak menggunakan narasi dan memakai sudut pandang aku. Meski begitu, cerita ini dikemas dengan cukup menarik sehingga tidak terlalu membosankan saat dihadapkan dengan kehidupan Amanda.
Amanda memiliki kehidupan yang sempurna. Selalu menjawab semua pertanyaan guru, mendapat nilai A, memiliki teman-teman yang jenius, dan seorang Ibu yang selalu bangga dengan dirinya. Tidak ada alasan bagi Amanda untuk menjadi depresi, bukan?
Aku kira aku akan dihadapkan dengan semua masalah yang membuat Amanda depresi, sayangnya, sampai bab 5 tidak ada yang spesial dari cerita ini. Tidak ada yang membuat aku bergumam, "Ah, ternyata ini penyebab Amanda depresi." Namun, memasuki bab 8, kau akan disuguhkan penyebab terjadinya depresi pada Amanda. Itu artinya, penulis sengaja membuat pembaca untuk mengenal Amanda dengan keseluruhan secara perlahan.
Bermula dari pikirannya yang mengatakan bahwa dia harus belajar, bahwa dia tidak harus berada di arena skating. Namun, ketika nyatanya dia ada di sana dengan Tommy yang sudah menjadi pacarnya, pikirannya beralih bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Tommy di dalamnya. Lalu, Amanda teringat akan ucapan kakeknya. Semenjak itu, Amanda menganggap bahwa nilai yang ia dapatkan hanyalah sebuah keberuntungan.
Pikiran itu terus berlanjut ketika Amanda mengerjakan tugas dengan keadaan setengah sadar. Menurutnya, tugasnya masih harus diperbaiki dan ada beberapa yang salah ketik. Namun, gurunya malah memberi nilai A, membuat Amanda berpikir bahwa guru tersebut memberinya bonus karena sudah mengumpulkan tugas tepat waktu.
Kemudian, pikiran Amanda mengklaim bahwa dia adalah penipu besar dan beruntung saat jawabannya salah tapi tidak ada yang tahu. Amanda semakin diliputi rasa bersalah. Apalagi untuk yang pertama kalinya, Amanda mendapat nilai B minus, membuat keadaan Amanda semakin tertekan.
Penulis pintar membawa cerita sehingga pembaca bisa merasakan emosi yang dirasakan Amanda. Saat dia membutuhkan seseorang, tapi bahkan pacarnya tidak mengerti mengenai keadaan Amanda yang sebenarnya, yang mana membuat psikis Amanda semakin jatuh dan tertekan.
Dan yang membuat aku suka dari novel ini adalah bagaimana penulis berhasil memasukkan sedikit pengetahuan mengenai klub komputer, mengenai alam semesta, dan pertanyaan apa saja yang harus dijawab oleh orang depresi. Entah penulis mengunjungi psikiater atau memang dia pernah mengalaminya. Ceritanya bergulir dan ringan sehingga kau tidak sadar bahwa sudah memasuki klimaks.
Untuk ending, memang agak sedikit kecewa. Akan tetapi, itu ending yang pas untuk novel ini.
Novel ini rekomendasi untuk anak remaja. Bagaimana kita akan diajak menemui masalah Amanda satu per satu, lalu cara menyelesaikannya, dan yang terpenting adalah bagaimana cara untuk berdamai dengan diri sendiri. Masalah yang diangkat pun sering kali terjadi pada anak remaja.
Rating: 4 dari 5


Kayanya seru ๐ป๐ป
ReplyDeleteWah! Tentang depresi. Tapi penyebabnya malah hidup yang sempurna. Unik. Terima kasih Kak reviewnya
ReplyDeleteMasukkan ke list๐
ReplyDelete